RESENSI KUMPULAN CERPEN
Judul Buku : Robohnya Surau
Kami
Penulis Buku : A.A NAVIS
Penerbit :
PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan :
Ketujuh, Juni 1996
Kedelapan, Juni 2002
Kesembilan, Juli 2003
Kesepuluh, September 2003
Tebal :
X, 147 Halaman, 21 cm
Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang
ditulis oleh A.A Navis yang lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 17
November 1924. Ia mendapat pendidikan di Perguruan Kayu tanam. Beliau pernah
menjadi Kepala Bagian Kesenaian Jawatan Kebudayaan Provinsi Sumatera Tengah di
Bukittinggi (1959-1955), pemimpin redaksi harian Semangat di Padang
(1971-1982), dan sejak 1969 menjadi Ketua Yayasan Ruang Pendidik INS Kayutanam.
Kumpulan cerpen ini merupakan buku kelima yang dihasilkannya, setelah sebelumnya
ia menerbitkan buku kumpulan cerpen yang berjudul Hujan Panas (1964), Kemarau
(1967), Di Lintasan Mendung (1983), Dialektika Minangkabau (1983), Alam Terkembang Jadi Guru (1984), Bertanya Kerbau pada Pedati (2002), dan Saraswati, Si Gadis dalam Sunyi (2002).
Dari 10 cerita pendeknya semuanya
mengalirkan cerita yang begitu memukau tentang nilai-nilai kehidupan yang ada
di dalam kehidupan masyarakat semuanya lengkap disini seperti nilai agama,
kasih sayang, percintaan, dan perjuangan.
Dengan diskripsi tentang detail baik suasana
maupun tempat yang diceritakan dengan mengalir indah, dialog
antartokoh-tokohnya yang saling bertautan, juga bangunan konflik yang dibangun bisa
untuk memancing daya emosi dan imajinasi pembaca seakan kita sendiri yang
sedang mengalami permasalahan yang ada pada cerita tersebut. Ending yang sering
tidak terduga membuat pembaca tidak saja setia menyusuri kata dan kalimatnya
tapi bahkan bisa larut di dalamnya.
Dibuka dengan cerpen yang berjudul “Robohnya Surau Kami”, kita dihadapkan bahwa seorang kakek sebagai
penjaga surau dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat yang
menjadi sasaran Ajo Sidi si pembual. Akhirnya kakek mengakhiri hidupnya dengan
cara yang mengenaskan karena cerita Ajo Sidi yang menyakitkan hati.
Dalam “Anak
Kebanggaan” bercerita tentang ompi sangat berharap anaknya Indra Budiman
menjadi seorang dokter sehingga apapun akan dia lakukan demi cita-citanya
tercapai.
Ada juga cerpen dengan judul “Datangnya dan Perginya” yang
menceritakan tentang kehidupan rumah tangga yaitu seorang ayah yang insaf dan
mau bertobat.
Keistimewaan dalam kumpulan cerpen ini terletak
pada teknik penceritaan A.A Navis yang tidak biasa karena A.A Navis
menceritakan suatu peristiwa yang terjadi di alam lain. Bahkan di sana terjadi dialog
antara tokoh manusia dengan Sang Maha Pencipta. Yang menarik dari kumpulan
cerpen karya A.A Navis membawa kejutan karena ceritanya menyindir pelaksanaan
kehidupan beragama secara luar biasa tajamnya. Selain itu kumpulan cerpen ini
lebih banyak mengingatkan kita untuk selalu bekerja keras karena kerja keras
adalah bagian penting dari ibadah kita.
Dalam kumpulan cerpen yang berjudul “Robohnya Surau Kami” adanya ketidakstabilan
dalam cerita karena informasinya belum tuntas bahkan menimbulkan pertanyaan,
mengapa si kakek wafat dan bagaimana hal itu bisa terjadi? Sehingga
ketidakstabilan ini memunculkan suatu pengembangan suatu cerita.
Di dalam cerpen ini pengarang menggunakan
kata-kata yang biasa digunakan dalam bidang keagamaan (islam). Selain itu, pengarang
pun menggunakan simbol dan majas. Simbol yang terdapat dalam cerpen ini tampak
jelas pula judulnya, yaitu Robohnya Surau Kami. Surau di sini merupakan simbol
kesucian, dan keyakinan. Sedangkan majas yang digunakan dalam cerpen ini
diantaranya adalah majas alegori karena di dalam cerita ini cara
berceritanya menggunakan lambang, yaitu
tokoh Haji Saleh dan kehidupan di akhirat. Majas ini sangat dominan dalam
cerpen ini. Selain majas alegori pengarang pun menggunakan majas Sinisme
seperti yang diucapkan tokoh aku dalam “Robohnya
Surau Kami “ : “…Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang,
yang tidak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi”. Dengan demikian
penggunaan majas-majas itu untuk mengingatkan atau menasehati sekaligus mengejek
pembaca atau masyarakat. Tetapi nasehat dan ejekannya itu ternyata berhasil.
Buktinya ketika kumpulan cerpen ini diterbitkan tidak lama kemudian kumpulan
cerpen ini mendapat tempat di hati pembacanya. Dan sesuatu yang dapat kita
petik dan direnungkan dalam kumpulan cerpen-cerpen ini adalah jangan menyia-nyiakan
apa yang telah kamu miliki.

